Company Profile

 PETA LOKASI >>. Esha Flora 

Sponsor

Transfer Teknologi Kultur Jaringan Esha Flora Untuk Perusahaan maupun Perorangan 
Oleh:  Ir. Edhi Sandra MSi  Dan  Ir. Hapsiati



Latar Belakang 
Prospek pengembangan Kultur Jaringan di Indonesia sangat baik. Indonesia membutuhkan bibit-bibit yang berkualitas dan unggul di berbagai macam sektor, seperti pertanian, perkebunan dan kehutanan, belum lagi untuk kepentingan tanaman hias dan koleksi tanaman eksotik dan langka. Setelah sekian lama memberikan pelatihan kultur jaringan (dengan jumlah peserta pelatihan yang lebih dari seribu orang yang di adakan di Esha Flora maupun di IPB) hanya sekitar 30 % yang tetap eksis dalam mengembangkan kultur jaringan.


Kelompok yang eksis ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu: 1). peserta yang memang sudah bekerja di bidang kultur jaringan di perusahaan negeri, perguruan tinggi maupun swasta sekitar 20 %, dan 2). Peserta perorangan atau utusan perusahaan swasta yang baru mau mengembangkan bisnis kultur jaringan sekitar 10%. Sedangkan yang 70% tidak dapat eksis dalam bidang kultur jaringan karena beberapa faktor yang dapat dikelompokkan menjadi:

Permasalahan Non Teknis:
1.1. Ketidakadaan waktu atau dana, atau tempat1.2. Ketidakadaan tenaga ahli dan trampil dalam kultur jaringan1.3. Permasalahan manajemen pegawai1.4. Permasalahan pasar
Permasalahan Teknis:
2.1. Permasalahan teknis kultur jaringan2.2. Permasalahan kontaminasi dan antisipasinya.2.3. Permasalahan ramuan dan komposisi media untuk tujuan tertentu2.4. Permasalahan manajemen pengelolaan teknis lab kuljar.2.5. Permasalahan kemampuan perencanaan produksi dan pencapaian target. Setelah kami analisa ternyata permasalahan mulai muncul pada saat para peserta tersebut mulai secara real melaksanakan kegiatan kultur jaringan. Banyak kegiatan teknis sederhana tapi ternyata sangat menentukan kelancaran dan kesuksesan dalam pelaksanaan kultur jaringan tersebut.

Dan permasalahan tersebut terjadi selama awal pelaksanaan pengelolaan lab kultur jaringan.Permasalahan akan bertambah besar dan membuat stress berat para pengelola lab kuljar, setelah dihadapkan pada program produksi yang tinggi dan pencapaian target produksi yang sangat sempit waktunya, bila dalam hal ini mereka belum ada pengalaman maka ditambah dengan adanya kendala teknis maka pengelolaan lab kuljar akan menjadi kacau. Dan gagal dalam mencapai tukjuan yang diinginkan.

Oleh sebab itulah maka Esha Flora berusaha membantu semua pihak yang berusaha membuka usaha kultur jaringan dengan membantu mengatasi semua permasalahan tersebut dan mendampingi selama proses awal pelaksanaan pengelolaan laboratorium kultur jaringan tersebut. Program tersebut dapat berlangsung selama 6 bulan sampai satu tahun dan bisa lebih bila di perlukan. Transfer Teknologi Kultur Jaringan Esha Flora Adapun Paket Program Transfer Teknologi Kultur Jaringan ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu:

Konsultasi perencanaan bisnis & pembuatan laboratorium kultur jaringan.
Pengadaan paket alat dan bahan kultur jaringan dengan skala tertentu seperti paket alat bahan dengan kapasitas 1000 kultur, 10.000 kultur, 100.000 kultur dan 1 juta kultur.

Jasa inisiasi kultur jaringan tanaman yang diinginkan.

  • Paket pelatihan kultur jaringan
  • Paket magang kultur jaringan
  • Pendampingan start awal pengelolaan laboratorium kultur jaringan
  • Supervisi dan evaluasi setiap tahapan kultur jaringan.
  • Jasa perencanaan strategi bisnis kultur jaringan
  • Jasa perencanaan dan target produksi kultur jaringan

Komponen program dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangnya. Intinya adalah kami berusaha mengatasi semua permasalahan di dalam merintis usaha kultur jaringan.Setiap komponen program merupakan jawaban dari permasalahan yang seringkali ditemui para perintis usaha kultur jaringan secara garis besarnya permasalahan di bagi menjadi 2 kelompok. Yaitu :

1. Permasalahan teknis dan manajemen laboratorium kultur jaringan.
2. Permasalahan pasar dan strategi usaha kultur jaringan.

Situasi dan kondisi laboratorium kultur jaringan berbeda-beda, hal ini disebabkan keterbatasan dari para pelaku usaha kultur jaringan juga berbeda-beda, demikian pula dengan tenaga pelaksananya juga mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang berbeda-beda. Seringkali para pelaku kultur jaringan dalam merintis usaha kultur jaringan dengan cara mencontoh atau mengikuti dari laboratorium kultur jaringan yang ada. Akan tetapi mereka tidak mampu memodifikasi dan menyesuaikannya dengan kondisi dan siatuasi yang cocok di lingkungannya. Bahkan seringkali mereka salah di dalam menarik kesimpulan dan mengambil prinsip yang harus dipegangnya dalam pelaksanaan usaha kultur jaringan tersebut.

Permasalahan Teknis dan Manajemen Laboratorium Kultur Jaringan. Bagi perusahaan atau perorangan yang baru merintis usaha kultur jaringan, maka sebenarnya dia harus menyusun satu-persatu pelaksanaan teknis dari setiap tahapan dan proses kulur jaringan. Bila dalam hal ini si pelaksana belum mempunyai pengalaman, maka dia akan terantuk-antuk dalam setiap pelaksanaan teknis tersebut. Permasalahan Teknis Bagi orang umum, maka kultur jaringan terlihat sangat detail dan rumit. Tapi bagi sarjana kultur jaringan yang sudah mempelajari kultur jaringan maka terlihat mudah. Akan tetapi sebenarnya tidak demikian karena pada saat sarjana kultur jaringan tersebut terjun di laboratorium kultur jaringan, maka variasi yang ada sangat besar berkaitan dengan faktor keterbatasan, sitruasi dan kondisi serta variasi tanaman yang akan dikembangkan sangat beranekaragam. Ditambah lagi dengan keterbatasan waktu, biaya, tenaga, kapasitas alat, terbatasnya bahan dikaitkan dengan target dan skala produksi.

Kesemua faktor tersebut bercampur aduk menjadi sebuah permasalahan besar yang cukup sulit untuk diurai dan dipecahkan. Kalau sarjana kultur jaringan tersebut tidak mempunyai pengalaman maka akan membuat permasalahan tersebut akan terakumulasi dan semakin besar. Permasalahan manajemen Suksesnya usaha kultur jaringan tidak hanya ditentukan dengan mahalnya investasi yang sudah dikeluarkan. Bukan tergantung pada mahalnya peralatan dan gedung laboratorium kultur jaringan. Tapi lebih ditentukan pada terlaksananya prinsip-prinsip dasar di dalam kultur jaringan.

Laboratorium kultur jaringan yang baik tidak hanya ditentukan oleh tertutup rapatnya (terisolasi) laboratorium kultur jaringan tersebut, juga bukan pada dinginnya AC atau terangnya lampu. Tapi juga sangat ditentukan pada pengelolaan laboratorium kultur jaringan tersebut. Permasalahan Pasar dan Strategi Usaha Kultur Jaringan Bagi para pemula yang baru mau merintis usaha kultur jaringan maka akan bermasalah dalam hal pasar. Kecuali bila mereka membuka usaha kultur jaringan sebagai upaya pengembangan usaha yang sudah ada. Misalnya dalam rangka mengantisipasi kekurangan pengadaan bibit unggul. Bagi pengusaha kultur jaringan yang tidak mempunyai akses pasar yang sudah pasti, maka ia harus pandai membuat strategi agar biaya operasional laboratorium harus dapat tertutup oleh pemasukan yang ada.

Untuk itu maka pengelola kultur jaringan harus mampu melakukan diversifikasi produk dan jasa yang dihasilkannya untuk memperkuat eksistensinya. Strategi tersebut tidak hanya diversifikasi produk dan jasa saja tapi juga merupakan kesatuan usaha yang saling sinergis dan sistematis mampu mengembangkan laboratorium secara bertahap, walau pada tahap awalnya dimulai dari investasi yang sangat terbatas. Transfer Teknologi Esha Flora yang pernah dilakukan Esha Flora sampai saat ini sudah melakukan beberapa kali transfer teknologi kultur jaringan, diantaranya:


  • Pengembangan laboratorium kultur jaringan peserta pelatihan Esha Flora
  • Pengembangan laboratorium kultur jaringan anggrek di Bali
  • Pengembangan laboratorium kultur jaringan tanaman hias di Depok
  • Pengembangan laboratorium kultur jaringan di Perusahan pertambangan di NTT
  • Pengembangan laboratorium kultur jaringan rami di Garut.


Penutup 

Bahwa dalam merealisasikan dan melaksanakan / mengelola laboratorium kultur jaringan, ibarat seorang nahkoda kapal laut yang sedang mengarungi lautan yang luas dengan ombak yang besar diseling dengan badai dan hujan deras. Bila nakhkoda tersebut tidak terampil mengendalikan kapalnya maka kemungkinan besar akan tenggelam atau bila tidak kemungkinan iya akan tersesat di lautan luas Semoga tulisan ini bermanfaat untuk evaluasi besama, dan menjadi motivasi agar kita lebih professional dalam mengembangkan kultur jaringan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih (Bogor, 20 Desember 2010 Esha Flora)
Teknik membudidayakan anggrek secara alamiah dengan menempelkannya di pohon memerlukan pengetahuan yang baik agar anggrek dapat hidup dengan subur.

Bila pengetahuan ini diabaikan maka ada kemungkinan anggrek yang ditanam akan mati. Bahkan kita dapat memperbanyak bibit anggrek juga di pohon tersebut secara alamiah, tidak perlu repot-repot menumbuhkannya dalam botol kultur (seperti dalam metode kultur jaringan).



Beberapa hal yang perlu di perhatikan adalah

1. Sebaiknya berada pada lintasan air yang mengalir di batang pada saat hujan,

 2 Menanam pada bagian yang berlumut, biasanya pada lumut tersebut bersimbiosis dengan mikoriza yang membantu mendapatkan unsur Nitrogen dan Phosphor,

3. Sebaiknya berada pada pohon yang sudah tua sehingga banyak terdapat kulit-kuliyang telah mati yang terdegradasi dan menjadi bahan makanan atau batang yang lunak,

 4 Kondisi lingkungan tidak terlalu terik, kelembaban tinggi dan angin harus cukup agar proses transpirasi dapat berjalan dengan baik walau kondisi lingkungan suhu tidak terlalu tinggi dan sinar rendah,

5. Walaupun intensitas sinar rendah tapi perlu lamanya penyinaran yang memadai agar jumlah fotosintesis memadai untuk dapat membiayai hidupnya.Oleh sebab itu biasanya tedapat pada bagian yang mudah terkena sinar pagi dan sore,

6. Curah hujan harus memadai jangan sampai kekeringan dalam waktu berbulan-bulan. Selamat menyimak.
Terima kasih. edhi sandra.
Oleh : Ir. Edhi Sandra MSi dan Ir. Hapsiati
Pemilik Esha Flora Plant and Tissue Culture

PendahuluanDalam pelaksanaan kegiatan bioteknologi seringkali kita terhambat oleh ketiadaan alat-alat untukmelaksanakan bioteknologi tersebut. Ketiadaan alat bisa disebabkan karena memang sulitnya didapat alat-alat tersebut karena di dalam negeri tidak ada yang membuat, hampir 80% masih buatan luar negeri. Ketiadaan juga disebabkan karena tidak mampunya membeli alat karena terlampau mahal untuk ukuran masyarakat Indonesia pada umumnya.
Sementara para pelaku usaha di Indonesia sebagian besar adalah para pelaku usaha kecil dan “gurem”.Para pelaku usaha kecil ini, yang sebagian besar adalah masyarakat Indonesia dengan kategori kondisi ekonomi menengah kebawah.

Seandainya saja para pelaku usaha kecil tersebut memiliki alat untuk dapat melakukan teknologi tinggi, maka akan sangat membantu sekali dalam peningkatan produktivitas, kinerja dan kualitas yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan ekonomi. Peningkatan ekonomi para pengusaha kecil ini akan berdampak sangat signifikan karena jumlahnya yang sangat banyak.

Oleh sebab itulah maka membantu mengadakan peralatan alternative yang dapat digunakan oleh para pengusaha kecil tersebut menjadi sangat penting.
Pembuatan dan modifkasi peralatan untuk kegiatan bioteknologi menjadi sangat dimungkinkan bila kita memahami persyaratan pokok dan fungsi dasar dari alat yang akan dibuat dan dimodifikasi, bahkan kita dapat membuat alat dengan kualifikasi fungsi dan persyaratan yang lebih baik dengan bahan yang lebih murah dan sederhana.

Sebenarnya para tenaga ahli mesin di Indonesia dapat membuat dengan sangat mudah bila mampu memahami prinsip dasar dan fungsi dasar dari alat tersebut, sayangnya info mengenai kebutuhan dan juga prinsip dasar tersebut belum banyak diketahui orang, sehingga pengembangan peralatan laboratorium kultur jaringan masih belum banyak yang mengembangkan. 

Perkembangan modifikasi dan kreativitas peralatan lab emnjadi sangat lambat karena kurang kreatifnya dan kurangnya kemauan dan keuletan masyarakat Indonesia pada umumnya. Pada umunya masyarakat Indonesia hanya menunggu dan mengikuti yang sudah ada yang sudah jelas kualitasnya. Jarang yang mau bersusah payah untuk meneliti dan meriset mengembangkan terobosan baru.
Kemauan, keuletan dan keikhlasan untuk berkorban demi menemukan suatu kreasi dan inovasi baru seringkali menuntut pengorbanan waktu, tenaga, biaya dll. Banyak orang tidak mau melakukan hal ini, kebanyakan mereka ingin menerima yang sudah jadi saja. Bila sifat mental ini terus berlangsung maka Indonesia akan tenggelam dan di jajah oleh negara asing yang masyarakatnya sudah memiliki mental yang kuat dan kinerja yang tinggi.


Mari kita kembangkan sendiri kebutuhan peralatan yang diperlukan untuk memproduksi usaha kita. Dengan menggunakan alat akan dapat mendongkrak produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan. Mari dengan daya kreasi dan modifikasi, kita buat alat yang sesuai dengan kebutuhan dengan biaya semurah mungkin sehingga produksi akan menjadi lebih efisien dan efektif.
Oleh sebab itulah maka Esha Flora juga berusaha untuk membuat kreasi dan modifikasi peralatan bioteknologinya secara mandiri. Esha Flora bekerjasama dengan berbagai pihak, baik yang perseorangan, maupun lembaga memproduksi berbagai alat yang dapat dibuat secara bertahap, dengan harapan banyak alat yang dapat dibuat yang pada akhirnya akan berdampak positif bagi produktivitas bioteknologi di Indonesia.

Peralatan yang Sudah, sedang dan akan dibuat oleh esha Flora meliputi:

1.    Enkas.
Adalah suatu alat pengganti Laminar Air flow Cabinet (LAFC). Fungsi dari Laminar adalah tempat melakukan inisiasi dan subkultur dalam kegiatan kultur jaringan. Laminar adalah suatu alat yang berupa “kotak dengan bagian depan terbuka. Dan alat ini memiliki suatu filter yang dapat menyaring mikroba sehingga angin yang bertiup dari bagian dalam alat ini relative steril. Tingkat steril dari alat ini tergantung pada filter yang digunakannnya Ada yang menggunakan filter seadanya berupa spon atau busa dan kait flannel maka pada kondisi ini persentase tersaringnya mikroba tidak terukur dengan baik. Ada pula yang menggunakan filter plankton 400 – 700 mes hal ini sudah lebih baik karena dapat terukur. Dan yang paling baik adalah dengan filter HEPA yang tingkat penyaringannya sampai 99,999% bebas mikroba. Tapi jangan salah sangka bukan hanya sekedar filternya saja tapi juga bagaimana mengemas dalam bentuk bilter yang sudah siap pakai dengan farme yang baik dan padat, kedap. Ada yang menggunakan filter HEPA tapi dibuat dengan seadanya framenya sehingga kualitas menjadi tidak baik. Ada pula filter yang lebh baik lagi namanya filter ULFA dapat menyaring mikroba sampai 100%. 

Sebenarnya prinsip dasar dari Laminar adalah menyediakan tempat kerja yang steril sehingga pada saat melakukan inisasi dan subkultur tidak terjadi kontaminasi. Bila pada Laminar menggunakan blower yang membuat angin berhembus dari dalam laminar dan bersifat steril di meja kerjanya sehingga laboran dapat bekerja di ruang kerja laminar dengan nyaman. 

Untuk memodifikasinya maka asal kita dapat menyediakan suatu ruang atau tempat kerja yang sterile maka sudah cukup. Oleh sebab itulah maka agar alat yang dibuat dapat steril dan tidak memerlukan filter agar tidak mahal maka dapat dibuat alat yang kedap dari lingkungan dan tertutup rapat maka sebelum melakukan pekerjaan bagian dalam alat kita sterilkan terlebih dahulu, maka dengan demikian kita mendapatkan alat yang steril untuk melakukan inisasi dan subkultur.
Jadi prinsip alat alternative yang biasa disebut Enkas ini yang penting adalah Kedap dan rapat dan harus disterilkan terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan kultur jaringan. Untuk membuat alat yang kedap maka bisa dibuat dengan menggunakan kayu, multiplek, lempengan logam, kaca maupun plastic.

Esha Flora membuat Enkas untuk kepentingan pendidikan dan untuk memudahkan mengamati hasil pekerjaan maka dibuat dengan menggunakan kaca dan atau akrilik. Tempat memasukkanj alat dan tempat masukknya lengancukup dibuat dari toples yang dipotong bagian tengahnya sehingga yang dipakai adalah bagian atas dengan tutupnya saja, hal ini membuat enkas menjadi lebih murah. Untuk memudahkan dan melayani konsumen maka Esha Flora juga mengakomodir permintaan konsumen yang juga ingin menggunakan lampu UV pada alat enkasnya atau bisa juga menggunakan ozoniser. 

2.    Laminar Air Flow Cabinet.
Esha Flora juga membuat laminar untuk mengisi kekosongan alat laminar di dalam negeri harga Laminar dari luar negeri sangat mahal, sementara kalau kita buat sendiri maka harga bisa dikurangi dengan sangat lumayan bahkan dengan criteria yang lebih bagus. Pada alat laminar dari luar negeri umumnya berukuran besar dengan lempengan besi yang sangat tebal sehingga memang kekuatannya sangat baik. Tapi yang perlu diingat bahwa di luar negeri mereka membuat lab kultur jaringan dengan sangat baik sehingga di ruang kultur kundisinya memang sudah sangat steril sehingga alat laminar besar dan terbuka lebar menjadi tidak masalah. Berbeda di Indonesia yang merupakan negar tropis dengan suhu dan kelembaban yang tinggi sehingga jumlah dan ragam mikrobanya juga sangat banyak. Disamping itu di dalam pembuatan laboratorium kultur jaringannya kurang memperhatikan standar sterilsasi yang baik sehingga di dalam ruang kultur masih banyak mengandung mikroba. Oleh sebab itulah maka alat yang besar dan terbuka lebar itu tetap akan tidak optimal karena kondisi laboratorium yang kurang optimal steril. 

Mengetahui kondisi itu maka berdasarkan prinsip kehati-hatian terhadap kondisi laboratorium yang kurang steril maka Esha Flora membuat LaminarAir Flow dengan berbagai modifikasi yaitu:

 1. Laminar dibuat dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran pekerja dan dibagian depan atas dibuat penghalang dari kaca yang berfungsi untuk menghalangi masuknya kontaminasi ke dalam laminar sekaligus menghalangi kepala pekerja yang secara tidak sadar akan masuk ke dalam laminar saat kerja pemotongan eksplan karena ingin melihat eksplan lebih jelas. 2. Demikian pula dengan meja kerja dilapis dengan kaca agar permukaan licin sehingga memudahkan untuk mensterilkan mikroba yang ada di meja kerja laminar. 

3. Adanya tutup laminar yang berfungsi untuk menghalangi masuknya kontaminan dari luar. Jadi untuk para pekerja yang hati-hati maka pada saat kerja tidak akan membuka semua pintu laminar untuk mengurangi peluang masuknya mikroba.

 4. Adanya prefilter yang berfungsi untuk menyaring debu yang memang masih banyak terdapat di ruang laboratorium sehingga prefilter ini yang akan melindungi filter HEPA di bagian dalamnya sehingga masa pakai filter HEPA menjadi lebih panjang.

 5. Disediakannya stabilizer karena diketahui kondisi listrik di Indonesia yang seringkali tidak stabil dan seringlai merusak peralatan listrik

.6. laminar terbuat dari lapisan bahan stainless steel yang membuat peralatan ini mempunyai daya pakai yang cukup lama.
Esha Flora telah membuat berbagai laminar sesuai dengan permintaan konsumen, laminar untuk kerja satu orang, laminar untuk dua orang pekerja, laminar horizontal, laminar vertical (arah angin blowernya), 

Laminar ukuran kecil, laminar dengan berbagai variasi sesuai dengan kerjasam berbagai mitra Esha Flora


Shaker. 
Esha Flora juga membuat alat pengocok kultur yang berfungsi untuk membuat cloning dan keperluan lainnya esha Flora membuat dengan modifikasi sehingga selain harganya yang lebih murah memiliki kelebihan fungsi, 

yaitu: 1. Shaker yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa menggunakan botol selai atau botol lainnya sesuai dengan permintaan sehingga tidak mengharuskan menggunakan Erlenmeyer yang harganya mahal. 
2. Shaker dapat digunakan dalam jumlah yang cukup banyak karena jumlah botol yang dapat di kocok lebih banyak dengan adanya ukuran meja yang lebih besar sehingga kapasitas produksi yang dihasilkan akan menjadi lebih besar. 
3. Shaker dapat diatur kecepatan goyangannya sehingga dapat diatur ukuran “granul” embrio somatik yang diinginkan. 4. Dilengkapi dengan timer sehingga bisa diatur lama goyangan sesuai dengan keinginan laboran.
4.    Aerator steril. Berfungsi untuk meniupkan udara steril ke dalam air. Dapat digunakan berbagai tujuan. Berfungsi untuk suplai oksgen bagi biakan mikroba, perendaman antibiotik dalam porses sterilisasi eksplan sampai 1-2 hari. Atau alat ini juga berfungsi untuk mensuplai okesigen bagi tumbuhan air dalam budidaya tanaman air secara intensif. Alat ini sebenarnya sangat mudah membuatnya yaitu dengan memberi filter steril berupa HEPA pada alat aerator yang biasa digunakan untuk aerasi aquarium.

Peralatan yang sedang dan akan dibuat oleh esha Flora adalah:
1.    Exhouse steril berfungsi untuk meniup dan mengeluarkan angin tapi tetap dalam kondisi steril. Alat ini sangat penting untuk membuang udara pengap di dalam laboratorium maupun pembakaran hasil penggunaan kompor di dalam laboratorium. Hal ini berfungsi untuk menjaga agar ruang di dalam laboratorium tetap steril. Atau bisa juga digunakan di ruang buffer sebelum memasuki ruang laboratorium steril. Ruang buffer adalah ruang antar laboratorium dengan ruang luar yang tidak steril.

2.    Shaker kecil untuk mengocok eksplan. Alat ini cukup penting untuk memudahkan pekerja agar tidak terlalu capai pada saat melukan kegiatan sterilisasi eksplan yang harus mengocok eksplan setiap kali perlakuan bahan sterilan.

3.    Autoclave sedang. Autoclave ukuran sedang dan besar (100 – 300 botol selai) untuk kapasitas besar sangat mahal yang dari luar negeri oleh sebab itulah maka keberadaan autoclave sedang –besar alternative dengan harga relative murah sangat penting. Alat dapat dibuat dengan bahan yang relative murah tapi tetap dengan savety yang memadai.

4.    Oven. Merupakan alat yang juga cukup penting untuk menyimpan dan mensterilkan botol kultur dan peralatan lab. Harga oven yang ukuran besar cukup mahal oleh sebab itu keberadaan Oven besar dengan harga relative murah merupakan hal yang sangat penting.

5.    Inkubator. Merupakan alat yang sangat penting untuk menumbuhkan biakan dalam kondisi suhu yang dikehendaki. Inkubator ini umumnya digunakan untuk menumbuhkan biakan mikroba dengan suhu 26-28oC. Kalau untuk kultur jaringan juga bisa digunakan dengan suhu sekitar 23 -25oC. Biasanya untuk kultur jaringan inkubaor berupa ruangan ber AC yang dilengkapi dengan rak berlampu. AC diperlukan untuk mengatur suhu agar tetap dan stabil, hal ini penting untuk mengantisipasi adanya radiasi panas yang disebabkan oleh lampu.

6.    Ozoniser merupakan alat yang digunakan untuk sterilisasi dan mengeluarkan getah dari eksplan. Alat yang dapat menghasilkan O3 merupakan alat yang dapat berperan sebagai alternative maupun komplemen dalam usaha mensterilkan ruang laboratorium yang benar-benar steril.

7.    Bioreaktor. Alat ini digunakan untuk membuat biakan mikroba dalam jumlah besar dalam kondisi steril. Disamping itu juga sebenarnya alat ini dapat digunakan untuk mengembangbiakan embrio somatik dari tanaman. Kemampuan menyediakan ruang steril yang disertai dengan suplai oksigen steril dan alat mengaduk dan media cair yang berisi ramuan untuk pertumbuhan biakan atau embrio somatik. Kapasitas yang dapat dibuat adalah sekitar 300 liter. Demikian pula alat ini dapat digunakan untuk mengembangbiakan: biakan mikroba seperti fusarium untuk inokulasi gaharu, mikroba pengurai seperti EM4, mikroba tertentu seperti mikroba penghasil enzim selulase dan lain sebagainya.

8.    Alat penyulingan. Alat penyulingan yang akan dibuat Esha Flora adalah alat suling yang kecil akan tetapi mempunyai efektifitas yang tinggi

9.    Rak kultur jaringan lengkap dengan lampunya. Rak kultur ini dibuat dengan ukuran yang disesuaikan dengan efektivitas penggunakan bahan

10.    Ruang laboratorium steril. Ruang laboratoriu steril biasanya diperlukan untuk lab yang ingin mengunakan standar yang tinggi, dengan tujuan agar peluang keberhasilan dan antisipasi kontaminasi menjadi lebih baik. Dalam hal ini di gunakan berbagai cara di dalam mentserilkan ruang laboratorium kultur jaringan yaitu: membuat ruang buffer dengan menggunakan exhouse steril, menggunakan AC plasma cluster, menggunakan lampu UV, menggunakan blower dan penyaring udara steril di dalam ruang laboratoriumnya, ditambah lagi dengan menggunakan oznoiser. Disamping ruang yang steril maka pengguna laboratorium juga harus tatu tata tertib untuk menjaga agar laboratorium tetap steril., terutama pada saat keluar masuknya tenaga kerja.

11.    Ruang laboratorium bukapasang untuk keperluan di lapang. Ada suatu kondisi yang mengharuskan untuk membuat laboratorium langsung d alam atau di lapang yang bertujuan untuk mengeliminasi menurunnya viabilitas eksplan, browning, dan kontaminasi. Pembuatan laboratorium langsung di lapang akan sangat membantu di dalam meningkatkan persentase keberhasilan. Prinsipnya adalah menyediakan suatu ruang yang kedap, tertutup rapat yang di dalamnya dapat disetrilkan dan kita dapat menggunakannya untuk melakukan kegiatan kultur jaringan.
Mari kita membuat berbagai alat kultur jaringan yang diperlukan, dengan berpegang pada prinsip dan fungsi dari alat tersebut maka kita dapat menbuat kreasi dan modifikasi dari alat yang akan dibuat. Dengan demikian kita dapat melakukan kegiatan kultur jaringan dengan lebih baik.

Bogor, 31 juli 2014 — www.eshaflora.com
Find us on Facebook
Follow Us