Oleh : Ir. Edhi Sandra MSi
Kepala Unit Kultur  Jaringan,  Bagian Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas,  Kehutanan Institut Pertanian Bogor


Pendahuluan
      Indonesia dikenal sebagai Negara “Mega Biodiversity” (Biological Diversity = Biodiversity) memiliki keanekaragaman hayati yang sangat fantastik. Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup-flora fauna dan mikroorganisme yang ditunjukkan oleh perlbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat/karakter yang terlihat pada berbagai tingkatan (level) persekutuan hidup baik tingkatan jenis (spesies), genetik dan ekosistem.
      Bila dilihat dari persentase flora dan fauna di seluruh dunia maka Indonesia yang luasannya hanya1,5 % luas bumi  memiliki 10 % dari total jenis tumbuhan berbunga, 12 % dari total jenis mamallia, 16 % dari total jenis reptilian, 17 % dari total jenis burung, 25 % dari total jenis ikan.
Bila kita lihat dari jumlah jenisnya maka hasilnya lebih hebat lagi, terdiri atas: 400 jenis dipterocarpacea, 25 jenis tumbuhan berbunga, 515 jenis mamalia (36 % endemik),    112 jenis kupu-kupu (44 % endemik), 600 jenis reptilian,  1.519 jenis burung (28 % endemik) dan 270 jenis amphibi.

Permasalahan
Sebagian besar keanekaragaman hayati tersebut berada pada suatu kawasan yang disebut “ Hutan Hujan Tropis Dataran Rendah”.  Dan kawasan ini adalah pada umumnya kawasan hutan produksi, sehinggasebagian besar di panen untuk diambil kayunya, sebagaian dikonversi menjadi HTI, sebagian lagi di konversi sebagai kawasan perkebunan dll.  Memang secara teoritis, bahwa semua kawasan tersebut sudah terwakili untuk konservasinya.  Secara teoritis semua kawasan hutan yang di pakai tadi sudah ada wakilnya dengan luasan tertentu untuk keterwakilan jenis flora dan faunanya.
Kita sudah berusaha membuat kawasan-kawasan konservasi baik yang in-situ (di dalam kawasan hutan) maupun ek-situ (diluar kawasan hutan) untuk menjaga kekayaan Negara dan bangsa Indonesia yang tidak ternilai ini. Akan tetapi sayangnya selama ini tidak pernah ada terdengar bahwa tumbuhan yang tadinya langka menjadi tidak langka, tapi justru erosi jenis dan genetik menukik dengan curam.  Banyak berbagai jenis yang statusnya menjadi langka dan terancam punah.
 Oleh sebab itulah maka kita berusaha untuk mengkonservasi keanekaragaman hayati tadi secara ek-situ, maka di munculkanlah Kota Konservasi. Kabupaten konservasi, Desa Konservasi, yang maksudnya adalah kita mempunyai kewajiban untuk melestarikan keanekaragaman jenis tersebut dimanapun kita berada.  Saat ini Pengelola Kebun Raya sibuk membangun kebun raya-kebun raya di beberapa daerah untuk melestarikan jenis-jenis endemik dan khas daerah tersebut.  Akan tetapi ternyata biayanya cukup besar dan tidak mudah pula pengelolaannya. Lalu bagaimana lagi agar kita tidak kehilangan kekayaan keanekaragaman hayati tersebut.
Konservasi In Vitro
            Sebenarnya ada alternative lain yang bisa kita lakukan yang dapat menjadi program sinergis atau simultan agar benar-benar keanekaragaman hayati kita dapat diselamatkan.  Konservasi In Vitro adalah suatu konservasi yang dilakukan dengan mengoleksi berbagai jenis tumbuhan di dalam botol kultur.  Dengan demikian kita dapat menghemat tempat, biaya dan tenaga kerja. Kita dapat menyimpannya sebagai koleksi sumber plasma nutfah.  Sebagai gambaran maka dengan luasan hanya 100 m2 maka kita dapat menyimpan ratusan ribu jenis di dalam botol kultur.  Dan kita dapat mengembangkannya kembali bila diperlukan.  Kita dapat menjualnya keluar negeri sebagai sumber genetik yang mempunyai karakter spesifik dengan nilai yang sangat tinggi, dan hal ini dimungkinkan karena, selain sudah steril, sehingga dari segi karantina sangat dimungkinkan, dan dari segi persaingan bisnis, jenis tersebut hanya ada di Indonesia, jadi kita bisa menjual dengan mahal.
            Sebagai contoh: Mother plant dari semua silangan aglonema yang berwarna merah adalah Aglonema rotundum, yaitu jenis asli aglonema yang berasal dari Sumatra.  Jadi awal mula ditemukannya warna merah adalah dari jenis Aglonema rotundum tersebut, yang ditemukan oleh seorang ahli breeding yaitu Bapak Greg Hambali.  Orang luar negeri sangat antusias untuk bisa mendapatkan aglonema ini, untuk digunakan sebagai mother plant
            Masih banyak lagi jenis-jenis tumbuhan tropis kita yang sangat terkenal diluar negeri seperti: Untuk dari jenis anggrek:  Anggrek hitam (Coelogyne pandurata), anggrek kribo (Dendrobium spectabile), Anggrek tebu (Gramatophylum sp), Anggrek bulan raksasa (Phalaenopsis gigantea), anggrek kuping gajah. Untuk jenis pohon: Ulin, Eboni, Meranti, Cendana, Gaharu, Merbau, Menyan, Kulim dll. Untuk jenis tumbuhan obat : buah merah, tabat barito, pasak bumi, buah makasar, akar kuning dll. Untuk tanaman hias: anggrek, nepenthes, palem, aglonema, anthurium, begonia, paku-pakuan, simbar menjangan, edelwise dll.

Teknik Mengoleksi Tumbuhan Dalam Botol Kultur
            Pertanyaannya adalah apakah tumbuhan di dalam botol tersebut tidak mati, sampai berapa lama tahan di dalam botol?.  Untuk menjawab ini sebenarnya ada dua teknik yang bisa dilakukan: 1. Kriopreservasi, yaitu teknik mengkoleksi suatu jenis tumbuhan dalam botol kultur dengan cara mengawetkannya dengan cepat dan tiba-tiba dengan menggunakan nitrogen cair, yang sebelumnya cairan selnya diganti dengan cairan yang tidak akan mengembang bila dalam kondisi membeku, maka tumbuhan tersebut akan terawetkan.  Hal ini di Indonesia dari segi teknis pelaksanaannya masih agak rumit untuk dilakukan. Ada teknik lain yang lebih mudah yaitu: 2. Teknik Pertumbuhan minimal, yaitu suatu teknik yang membuat tumbuhan di dalam botol menjadi tertidur. Dalam kondisi ini, yang biasanya di dalam kultur jaringan harus sudah di subkultur sekitar 3-4 bulan karena media habis, maka dengan teknik pertumbuhan minimal ini bisa bertahan sekitar 1-2 tahun.

Manajemen Bank Plasma
            Untuk dapat merealisasikan hal ini maka harus diatur manajemennya. Yaitu:
1.        Perlu dibuat Laboratorium Kultur jaringan yang besar dan memadai untuk Bank Plasma ini. Laboratorium Kultur Jaringan yang sangat besar ini menyimpan semua keanekaragaman tumbuhan yang ada di seluruh Indonesia, dengan sistem dipilah-pilah berdasarkan region tertentu.  Lembaga dan Lab ini berperanan sebagai Pusat Konservasi In-vitro atau Bank Plasma yang mengelola dan mengontrol kelestarian jenis dan genetik plasma nutfah dalam botol kultur.
2.        Perlu dibuatnya Laboratorium  di setiap BKSDH atau daerah untuk menampung keanekaragaman genetik dan jenis endemik dan khas dari daerah tersebut.  Lembaga ini bertanggung jawab terhadap kelestarian genetik dan jenis tumbuhan yang ada dalam botol kultur tersebut. Dan memberikan satu set seluruh keanekaragaman tumbuhan koleksi yang dimilkinya untuk diserahkan ke Pusat bank Plasma
3.        Perlu adanya laboratorium yang melakukan peran R & D, untuk mengatasi berbagai permasalahan teknis kultur jaringan. Dalam hal ini bisa melibatkan lembaga perguruan tinggi dimasing-masing daerah, dan bisa juga menunjuk satu lembaga yang membantu kelancaran teknis dalam hal kultur jaringannya.  Lembaga inilah yang juga harus melakukan penelitian tentang peningkatan pemanfaatan  dari jenis tumbuhan tersebut.
4.        Perlu adanya Laboratorium kultur jaringan yang berfungsi sebagai laboratorium produksi. Lembaga ini berperanan untuk memproduksi bibit yang diperlukan. Dalam hal ini bisa melibatkan pihak swasta, BUMN maupun perorangan.  Dalam konteks  produksi juga termasuk laboratorium yang menghasilkan bahan baku bioaktif langsung dari botol (dengan metode Metabolit sekunder)
5.        Perlu adanya Laboratorium Kultur Jaringan yang berperan sebagai Showroom khusus untuk produk kultur jaringan yang menampilkan aspek komersial, jadi tidak seluruh jenis ditampilkan tapi hanya jenis-jenis kultur yang potensial komersial. Lembaga inilah yang berperan mengkordinir dan memfasilitasi penjualan dan perdagangan produk kultur jaringan.  Lembaga inilah yang juga berperan melakukan promosi dan pameran keseluruh dunia.

Dengan demikian kita akan mendapatkan dua hal : 1. disatu sisi keanekaragaman hayati dapat lestari dan disisi lain keanekaragaman hayati ini benar-benar dapat bermanfaat dalam menghasilkan dan meningkatkan pendapatan negara.

Titik Kritis
            Titik kritis yang kemungkinan besar akan di hadapi adalah :
Sulitnya di dalam melakukan inisasi koleksi tumbuhan yang mau di kulturkan.
Keterbatasan jenis dan SDM yang membuat pengkoleksian jenis akan terhambat.
Pengelolaan Laboratorium kultur jaringan yang kurang baik dari segi pencatatan sehingga tidak jelas asal-usul dan umurnya. Dan pengkondisian laboratorium yang berbeda untuk mengkoleksi jenis, memproduksi, pemuliaan dll.
Tingkat kontaminasi yang tinggi ,karena masih kurang memadainya standar laboratorium kultur jaringan yang baik dan SOP (Standart Operational Procedure) dalam pengerjaan kultur jaringan.


Antisipasi Titik Kritis
Perlu di kerahkannya lembaga perguruan tinggi dan praktisi kultur jaringan untuk saling bekerjasama menginisiasi seluruh koleksi tumbuhan tropika Indonesia.  Dengan menggabungkan pengalaman dan memberikan kesempatan masing-masing untuk membuktikan dugaannya dan saling mengevaluasi maka masalah inisasi ini dapat dipecahkan.
Perlu adanya pelatihan untuk level pengelola (supervisor) dan teknisi dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam melakukan kultur jaringan.
Perumusan standar laboratorium yang baik untuk setiap laboratorium kultur jaringan dengan tujuannya masing-masing (tidak harus mahal, yang penting benar prinsipnya) dan perlu ditetapkannya SOP yang baku untuk dapat dilakukan oleh teknisi.

Fungsi Lembaga Konservasi In vitro
            Fungsi dari Lembaga Konservasi In-vitro ini berperanan:
Menjamin kelestarian jenis dan genetik melalui teknik kultur jaringan
Sebagai prioritas utama memanfaatkan koleksi kultur invitro untuk keperluan restorasi, pengayaan jenis di alam, riset dan pengembangan oleh instansi pemerintah, swasta dan masyarakat Indonesia, dan penerapan bisnis untuk masyarakat Indonesia.
Prioritas Kedua memperdagangkan keanekaragaman jenis dan genetik ini dengan nilai yang tinggi (sesuai dengan kelangkaan dan kespesifikannya) ke seluruh dunia.
Berperan sebagai kordinator, fasilitator, mediator dalam pengembangan kultur jaringan seluruh stakeholder yang ada.

Penutup
            Saya membayangkan semua jenis tumbuhan sudah dapat di kulturkan dan di koleksi. Kita dapat memanfaatkannya setiap saat diperlukan, bisa menjualnya dengan harga yang tinggi kepada Negara luar bila diperlukan, dan bisa memanfaatkannya  untuk bahan penelitian dalam pengembangan dengan berbagai tujuan. Akankah hal ini bisa terwujud?

Bogor, 20 April 2011