KONSERVASI IN VITRO 



 

Oleh

Ir. Edhi Sandra MSi

 

ABSTRAK

Konservasi secara umum dibagi atas dua kelompok, yaitu Konservasi in situ dan konservasi exsitu. Konservasi insitu dan konservasi exsitu mempunyai permasalahan masing-masing. Tapi ada permasalahan yang sama yang belum dapat diantisipasi dengan baik. Konservasi insitu dan konservasi exsitu sama-sama tidak dapat menjamin kelestarian biodiversitynya karena kondisi saat ini, yang global change, perubahan iklim yang semakin ekstrim membuat tingkat kepunahan menjadi sangat meningkat, banyak jenis yang tidak mampu bertahan. Belum lagi masalah deforestasi dan perambahan hutan serta deforestasi membuat keamanan biodiversity menjadi sangat rawan.

Perlu adanya suatu teknologi yang mampu mengkonservasi dengan baik, mampu mengatasi kondisi ekstrim iklim, dan lebih pasti didalam menjamin kelestarian jenis maupun genetic. Teknologi tersebut adalah Konservasi In Vitro. Dengan teknologi Konservasi In vitro semua factor terkait dengan pertumbuhan tanaman bisa dikontrol dengan baik dan tidak tergantung pada kondisi iklim yang ada. Konservasi In Vitro sangat efisien dan efektif karena teknologinya praktis dan dapat menyimpan koleksi jenis dalam jumlah sangat besar dalam satuan ruang yang relative sempit. Dengan demikian konservasi In Vitro dapat menampung koleksi tanaman dalam jumlah yang sangat besar. Dalam teknisnya konservasi In Vitro bisa membuat koleksi tanaman tertidur dalam waktu yang lama. Metode yang digunakan ada dua yaitu Kriopreservasi dan Teknologi Pertumbuhan Minimal.

Pengembangan Konservasi In Vitro merupakan peluang dan prospek yang snagat bagus mengingat bahwa Indonesia adalah negara Mega biodiversity. Negara lain mempunyai data tentang biodiversity, sementara kita memiliki plasma nutfah hidup biodiversity tersebut.

 

 

KONSERVASI IN VITRO

Oleh

Ir. Edhi Sandra MSi

 

Dosen Fakultas Kehutanan IPB University

Pemilik Esha Flora Plant And Tissue Culture

 

 

Pendahuluan

Latar Belakang

1.      Indonesia dikenal sebagai negara Mega Biodiversity. Hal ini merupakan potensi yang sangat besar untuk dapat di manfaatkan secara lestari (konservasi) dengan optimal bagi kesejahteraan masyarakat dan pemasukan devisa negara. Definisi konservasi dalam hal ini adalah pemanfaatan biodiversity dengan memperhatikan 3 aspek yaitu Perlindungan ekosistem, Pelestarian jenis dan Pengawetan genetik. Hasil yang optimal dalam pemanfaatan biodiversity dapat dilakukan bila keberadaan dan ketersediaan bahan kultur tersedia dan mudah didapatkan setiap saat.

2.      Terjadinya deforestasi, illegal logging, kerusakan hutan semua menyebabkan merosotnya biodiversity Indonesia secara tajam, hal ini sangat mengkhawatirkan. Banyak jenis yang belum sempat dimanfaatkan sudah terlanjur punah dan banyak lagi yang sedang mengalami proses kepunahan.

3.      Kawasan konservasi yang ada tidak menjamin keberadaan dan kelestarian jenis, pengawetan genetik sehingga banyak jenis yang sulit di cari atau ditemukan dan diduga mengalami proses kepunahan. Dan sampai saat ini kita masih belum dapat memanfaatkan biodiversity secara baik dan optimal.

Oleh sebab itulah perlu adanya Langkah-langkah real yang dapat mengantisipasi permasalahan tersebut. Antisipasi yang ada saat ini yaitu Konservasi ex situ dan Konservasi in situ belum optimal dalam pemanfaatan biodiversity, karena pada saat diperlukan maka ketersediaan jenis tersebut yang dibutuhkan sulit didapatkan. Tumbuhannya tercatat ada tapi untuk mendapatkan tumbuhan tersebut maka harus pergi ke kawasan hutan tertentu, harus dicari terlebih dahulu, hal ini sangatlah tidak praktis dan sangat menyulitkan. Istilah tumbuhan digunakan untuk tanaman yang masih liar yang belum dibudidayakan.

Solusi untuk dapat  menjamin kelestarian biodiversity dan dapat dimanfaatkan dengan mudah pada saat dibutuhkan bahan tumbuhannya adalah Konservasi In Vitro. Konservasi In vitro adalah suatu wujud nyata dari konservasi jenis dan pengawetan genetik yang menggunakan teknologi modern yaitu kultur jaringan sehingga biodiversity dapat dilestarikan dan dapat di koleksi dengan di “tidurkan” di dalam botol kultur. Konservasi In Vitro dapat mengkoleksi biodiversity dalam jumlah besar hanya dengan lahan yang relative sedikit. Luas lahan 1000 m2 dapat mengkoleksi 1 juta kultur tumbuhan. Bila hal ini bisa dilakukan maka biodiversity Indonesia akan dapat dilestarikan pemanfaatannya. Pelestarian pemanfaatan biodiversity merupakan konsep yang mengedepankan pemanfaatan dengan memperhatikan aspek kelestarian. Dengan Pelestarian pemanfaatan biodiversity,  juga berarti mencakup kelestarian biodiversitynya, karena tidak mungkin di manfaatkan secara lestari bila kelestarian jenisnya tidak terjamin.

 

 

 

Konservasi In Vitro

Adalah suatu kegiatan mengkonservasi biodiversity, dengan cara mengkoleksi biodiversity di dalam botol kultur jaringan. Koleksi kultur tumbuhan tersebut mampu dan bisa di simpan dengan baik, dalam waktu yang lama dan dalam kondisi hidup. Koleksi plasma nutfah hidup di dalam botol akan tetap terjaga keaslian genetik alaminya. Nilai manfaat dari koleksi kultur tumbuhan ini adalah nilai dari keaslian genetik plasma nutfah biodiversity Indonesia, hal ini adalah sesuatu yang sangat berharga, bahkan tak ternilai harganya. Keanekaragaman genetik merupakan modal dasar dalam pengembangan pemanfaatan yang selanjutnya terkait riset pangan, obat, farmasi, bahan alam, organik, karakter gen spesifik dll.

Konservasi In Vitro berusaha saya angkat sebagai suatu hal yang penting, menggabungkan kepentingan dalam mengkonservasi biodiversity dengan menggunakan teknologi kultur jaringan. Konservasi In vitro untuk menyempurnakan usaha konservasi yang sudah ada yaitu konservasi Ex situ dan Konservasi In situ. Dalam teknis pelaksanaannya menggunakan teknologi Pertumbuhan Minimal dan Kriopreservasi. Teknologi Pertumbuhan Minimal dan Kriopreservasi adalah suatu teknologi yang sudah berkembang dalam dunia kultur jaringan, tapi Usaha Meng “Konservasi In Vitro” Biodiversity Indonesia adalah sesuatu yang baru, Tidak semua negara bisa melakukan ini karena mereka tidak memiliki bahan pokoknya yaitu keanekaragaman tumbuhan seperti Indonesia. Hal ini merupakan potensi monopoli bagi Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain. Dan nilai plasma nutfah hidup adalah suatu nilai yang tak terhingga karena terkait dengan nilai spesifik dan unik dari suatu genetik alami suatu tumbuhan.

Bila negara lain, misal Jepang, Amerika, Eropah, mereka memiliki dan menguasai data jenis,  data genetik tanaman dari seluruh dunia, tapi tidak punya kultur tanaman hidupnya (plasma nutfah hidup). Indonesia lah yang memilikinya. Belum ada yang secara resmi dan legal menjual kultur steril dan hidup dari keanekaragaman tumbuhan. Belum ada di dunia ini yang menjual plasma nutfah hidup, menjual keaslian genetik hidup. Indonesia akan menjadi negara yang sangat kuat karena memiliki keanekaragaman genetik yang hidup yang bisa digunakan setiap saat dalam jumlah yang sangat besar (Mega biodiversity). Jual beli keanekaragaman genetik ini harus mengikuti peraturan terkait dengan perdagangan plasma nutfah, terutama terkait jenis-jenis langka dan endemik Indonesia

 

Tujuan Konservasi In Vitro

Mengoleksi plasma nutfah hidup biodiversity dalam wadah kultur steril dengan keaslian genetik alaminya dalam waktu yang lama secara lestari, serta dapat digunakan sewaktu waktu sesuai keperluan dan dapat dijual dengan nilai yang sangat tinggi.

 

Manfaat Konservasi In Vitro

1.      Melestarikan biodiversity Indonesia di dalam botol kultur steril, hidup dan terjaga keaslian genetiknya.

2.      Mudah untuk mendapatkan bahan hidupnya pada saat diperlukan, karena semua tersimpan dalam botol kultur steril dalam suatu lab kultur jaringan yang ada di dekat kita (tidak perlu ke hutan yang sulit dijangkau)

3.      Dapat mengoleksi biodiversity Indonesia dalam jumlah yang besar hanya dalam ruang dan tempat yang relative sedikit. 1000 m2 dapat menampung 1juta kultur tumbuhan.

4.      Dapat dijadikan sebagai bahan riset oleh berbagai pihak yang memerlukannya sehingga akan meningkatkan percepatan pengembangan riset pemanfaatan biodiversity

5.      Dapat dijadikan sebagai pemasukkan finansial yang tak terhingga, karena nilai plasma nutfah hidup merupakan mahluk hidup dengan karakter yang sangat spesial yang tak ternilai

6.      Memudahkan dalam proses jual beli (ekspor import) karena kondisi kultur sudah dalam kondisi steril

7.      Keunggulan Indonesia karena belum ada di dunia ini yang melakukan hal ini secara masif mengoleksi plasma nutfah hidup di dalam botol kultur steril, dan juga disebabkan bahwa mereka tidak mempunyai mega biodiversity seperti Indonesia, ini adalah nilai potensial atau keunggulan monopoli bagi Indonesia

8.      Pemasukkan Devisa baru bagi Indonesia terkait dengan ekspor plasma nutfah hidup Biodiversity Indonesia, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia

9.      Dengan teknologi ini juga bisa di koleksi berbagai jenis tumbuhan komersial tinggi dari seluruh dunia sehingga kita mempunyai koleksi plasma nutfah hidup jenis-jenis unggul dunia, serta bernilai sangat tinggi. Ini adalah bisnis masa depan.

10.  Banyak teknologi kultur jaringan lanjutan yang dapat dilakukan dalam peningkatan nilai tambah dan kualitas jenis, seperti membuat jenis raksasa, menghasilkan bahan organik atau zat alam langsung dari dalam kultur, membuat pemuliaan dengan menggunakan mutasi gen sehingga ragam genetik menjadi sangat beragam dan bervariasi. Semua ini akan meningkatkan dan membuat diversifikasi produk dalam pemasukkan finansial.

 

Teknis Konservasi In Vitro

1 Teknologi yang digunakan adalah teknologi kultur jaringan yang semua  ahli kultur jaringan dapat melakukan, tapi tidak ada yang berfikir ke arah Konservasi In Vitro. Bahkan masih ada persepsi  negative dalam koleksi jenis ini yang mereka menganggapnya tidak bisa dilakukan. Padahal persepsi bahwa kultur tumbuhan tidak dapat dikoleksi dan di simpan dalam waktu lama karena salah persepsi, mereka menganggap bahwa kultur akan menjadi tua dan mati, demikian pula bila kultur tumbuhan tersebut di subkultur berulang maka akan mengalami penuaan dan akhirnya mati. Ini adalah kesimpulan yang salah. Sifat tua dan menurunnya fungsional organ sela tau jaringan adalah bersifat fisiologi dan morfologi, bukanlah sifat genetiknya. Tumbuhan mempunyai titik meristem, yaitu sel yang tidak pernah tua dan selalu muda. Sel meristem inilah yang menggambarkan karakter genetika suatu tanamannya. Metode yang digunakan adalah “Mericlone”, perbanyakan tanaman dengan menggunakan teknologi kultur meristem. Bila menggunakan meristem maka sifat tua, sifat yang terkait umur, serangan penyakit bahkan virus juga bisa di hilangkan.

2. Prinsip dasar yang digunakan adalah kultur jaringan secara umum. Dan lebih lanjut untuk mengkoleksi jenis biodiversity tersebut ada dua metode yaitu : 1. Teknologi Pertumbuhan Minimal yaitu suatu teknologi “menidurkan” kultur sehingga tumbuh dalam waktu yang sangat lambat sehingga dapat disimpan di dalam botol kultur dalam waktu yang lama, dan 2 Teknologi Kriopreservasi adalah suatu teknologi mengawetkan genetik secara statis, dengan menggunakan nitrogen cair dan tanamana diawetkan dalam waktu yang cepat sehingga gennya terawetkan dengan baik tanpa adanya kerusakan.

3. Dalam pelaksanaannya sama dengan membangun laboratorium kultur jaringan hanya pengaturan di dalam ruang inkubasinya adalah pengaturan untuk menidurkan dan mengawetkan kultur tumbuhan. Koleksi di susun berdasar abjad taksonominya sehingga akan mudah di cari dan di dapat. Sistem pendataan terkait dengan protokol (Teknik mengkulturkannya serta deskripsi taksonomi, asal usul daerah dan di dapatkannya bahan kultur tersebut dan nilai manfaatnya. Data ini digabung dengan kultur plasma nutfah hidupnya akan bernilai sangat tinggi

4. Pengawasan di kaitkan dengan data base : waktu penanaman, waktu di subkultur, penyelamatan kultur yang kontaminasi dan browning. Persentase kematian di analisa terkait faktor penyebab kegagalan dan kematian, Hal ini menjadi evaluasi dalam penyempurnaan formula media kultur in vitro dan kesalahan manusia dalam pengerjaannya.

5. Quality Control dan Quality Insurance terkait dengan viabilitas tumbuhan dalam kultur, fenomena variasi somaklonal, keaslian genetik, data base dari setiap kultur, dan umur kultur

6. Subkultur dilakukan bila ada hal hal yang penting terkait dengan viabilitas, kontaminasi, browning, media kultur terpakai habis dll.

 

Strategi Pengumpulan Koleksi Jenis Kultur In vitro

1.      Untuk mempercepat koleksi jenis yang dapat dikumpulkan maka tahap awal dilakukan pengumpulan semua jenis yang bisa di dapat dari seluruh laboratorium kultur jaringan di Indonesia, melalui Komunitas Esha Flora, perguruan tinggi, dan swasta

2.      Secara simultan mengoleksi dan mengkulturkan semua jenis tanaman komersial tinggi yang beredar di pasaran, dan juga sekaligus jenis-jenis langka yang terancam punah yang ada di lembaga-lembaga konservasi di seluruh Indonesia: litbang, dinas kehutanan, dinas pertanian, dinas perkebunan, BKSDH, taman nasional

3.      Memanfaatkan seluruh pecinta alam dan mahasiswa kehutanan di seluruh Indonesia untuk dapat mengumpulkan seluruh jenis langka di Indonesia, dengan sistem reward yang menguntungkan.

4.      Membeli jenis-jenis langka dari sejumlah kolektor tanaman langka di Indonesia.

5.      Melakukan kegiatan inisiasi dengan sangat intensif sehingga peningkatkan kultur dapat bertambah dengan sangat signifikan.

 

Ruang Lingkup Dan Tahapan Kegiatan Konservasi In Vitro.

1.      Mengumpulkan koleksi kultur tanaman dari berbagai pihak.

2.      Kegiatan pengelolaan laboratorium kultur jaringan secara umum

3.      Kegiatan Inisiasi eksplan tanaman langka, endemik dan komersial tinggi (Program prioritas utama)

4.      Kegiatan penyelamatan kultur yang kontaminasi, browning serta mau mati

5.      Kegiatan Subkultur

6.      Pembuatan media kultur konservasi in vitro

7.      Pengumpulan informasi terkait dengan deskripsi jenis, pemanfaatan, budidaya dan perbanyakan, dan  protokol kultur jaringan, potensi pengembangan

8.      Pendataan koleksi kultur dengan detail sehingga memudahkan untuk pengelolaannya

9.      Pengaturan kultur yang harus ditidurkan dan dibangunkan, serta yang harus diproduksi untuk penjualan dan keperluan riset dll.

10.  Kegiatan untuk riset, pemuliaan, perbanyakan, perlakuan, penjualan

11.  Kegiatan persiapan kultur untuk siap dijual

12.  Kegiatan digital marketing, personal branding, company branding.

 

Sarana Prasarana Yang diperlukan

I.                   Laboratorium Kultur Jaringan

1.      Laboratorium kultur Jaringan secara Umum

1.1.Ruang pegawai

1.2.Ruang persiapan alat dan bahan

1.3.Ruang bahan kimia dan alat habis pakai

1.4.Ruang timbang dan pembuatan media

1.5.Ruang sterilisasi autoclave dan botol steril

1.6.Ruang cuci botol dan sterilisasi botol kotor

1.7.Ruang media kultur steril

1.8.Ruang inkubasi

1.9.Ruang inisiasi dan ruang tanam

1.10.        Ruang shaker, bioreactor dan TIS

2.      Ruang inkubasi khusus untuk Koleksi Konservasi In Vitro

3.      Ruang Inkubasi untuk membangunkan kultur

4.      Ruang Inkubasi untuk produksi dalam rangka permintaan konsumen

5.      Ruang inkubasi untuk riset

6.      Ruang inkubasi untuk perlakuan

7.      Ruang inkubasi untuk perbanyakan

8.      Ruang inkbasi untuk penyelamatan

9.      Ruang inkubasi untuk Plantlet

10.  Ruang gudang untuk botol kultur

 

II.                Green House

1.      Tempat untuk hasil aklimatisasi

1.1.Tempat untuk hardening

1.2.Tempat untuk penyungkupan berlapis

1.3.Tempat untuk pengepotan bibit siap tanam

2.      Tempat untuk karantina bahan indukan eksplan

3.      Tempat untuk Mother Plant

4.      Tempat untuk perlakuan di luar laboratorium

5.      Tempat untuk stek mikro

 

III.             Nursery

1.      Tempat perbanyakan stek mikro

2.      Tempat bibit pasca aklimatisasi

3.      Tempat bibit untuk diberi perlakuan

4.      Tempat bibit untuk riset

 

IV.             Gedung Pengepakan dan Pengemasan untuk Ekspor

1.      Tempat pembersihan dan pensterilan  kultur dan tanaman

2.      Tempat untuk pengemasan kultur dan tanaman

3.      Tempat untuk pengepakan kultur dan tanaman

4.      Gudang paket yang siap kirim

5.      Gudang alat dan bahan

 

Konservasi In Vitro Di Esha Flora dan IPB University

1.      Saya sebagai penggagas Konservasi In Vitro sudah melaksanakan hal ini sejak tahun 2000. Terkait dengan riset Teknologi pertumbuhan Minimal, dan Teknologi agar kultur dapat tetap hidup dengan baik walau sudah bertahun-tahun.

2.      Sampai saat ini Esha Flora sudah memiliki koleksi sekitar 400 jenis kultur tanaman.

3.      Esha Flora berusaha membantu dan mendampingi laboratorium kultur jaringan sekala rumah tangga (Peserta Pelatihan Esha Flora yang berjumlah ribuan orang) untuk mengembangkan koleksi kultur tanaman dengan system “hibah bergulir”

4.      Di Esha Flora ada kultur yang umurnya sudah lebih setahun, dua tahun, empat tahun bahkan ada kultur yang umurnya lebih dari 20 tahun, yaitu Pule pandak (Rauvolvia serpentina) jenis tumbuhan obat yang sudah terancam punah di alamnya, bahkan dianggap sudah punah karena terlalu sulit untuk mendapatkannya di alam. Pule Pandak mempunyai 13 bahan bioaktif, dan mempunyai peran fungsional yang kontradiktif dalam satu tanaman, yaitu Di satu sisi menurunkan tekanan darah, dengan bioaktif antihipertensi yaitu reserpine, serpentine dan ajmaline, di sisi lain mempunyai fungsi menaikkan gairah seksual (aprodisiaka), bahan bioaktif yaitu yohimbine.

5.      Terkait dengan penjualan Esha Flora telah menjual berbagai kulturnya dengan harga yang beragam mulai dari yang termurah dan sudah terjual, sekitar Rp, 30.000 per botol kultur (Kultur anggrek ), Rp. 150.000 (Kultur Pisang) sampai dengan yang termahal adalah 4 juta rupiah per botol kultur (kultur tanaman hias : Phylodendron White night 4 juta rupiah, Phylodendron Pink Princes 4 juta rupiah, Phylodendron Kabel Busi 2 juta rupiah). Hal ini menggambarkan betapa potensial nilai komersial dari kultur tanaman ini.

 

Strategi Pemasaran Via Online

1.      Pengembangan program Digital Marketing

1.1.Pembentukan akun akun sosmed

1.2.Pembentukan website, blog, channel youtube berbahasa inggris

1.3.Pemasangan produk di market place baik nasional maupun internasional

1.4.Pembentukan tim Digital Marketing yang solid

1.5.Melengkapi kataloq produk, spesifikasi, manfaat dan harga

1.6.Mengembangkan video terkait produk dan potensi pengembangannya

1.7.Mengembangkan Protokol Kultur Jaringan dan deskripsi Jenis

 

Strategi Kemandirian Usaha

1.      Pengembangan ragam dan diversifikasi produk dan jasa

2.      Pertambahan koleksi dan kelengkapan deskripsi jenis dan protocol kultur jaringan

3.      Pengembangan komunitas pengguna dan membentuk Asosiasi kultur jaringan Indonesia

4.      Pembentukan jejaring  yang terstrukturisasi dari jenjang nasional sampai daerah, dengan berbagai isntansi pemerintah dan NGO serta swasta, dengan sistem inti plasma dengan multilevel

5.      Pengembangan pemanfaatan plasma nutfah untuk berbagai bidang

6.      Pembentukan Lembaga Pendidikan dan pengelola laboratorium kultur jaringan yang tersertifikasi tenaga pelaksana dan pengelola dari level laboran, supervisor, manajer lab sampai pada direktur

7.      Pengembangan pemasaran ke luar negeri disesuaikan dengan pemanfaatan bahan plasma nutfah sesuai dengan yang diperlukan oleh negara-negera lain.

8.      Pengembangan unit-unit mandiri untuk pemasukan fiannsial perusahaan

9.      Pengembangan R & D dalam rangka pengembangan pemanfaatan plasma nutfah hidup

10.  Pengembangan jasa dalam pemanfaatan plasma nutfah untuk berbagai pihak.

11.  Pembentukan komunitas produksi kultur jaringan untuk ekspor.

12.  Teknik subkultur cepat dan peralatan percepatan propagasi tanaman

13.  Percepatan perbanyakan hasil kultur dengan stek mikro saat aklimatisasi

14.  Pembangunan mistroom, untuk Teknik perbanyakan mikro di luar kultur

 

 

 

Penutup

Konservasi In Vitro akan menjadi sesuatu yang sangat diperlukan, karena alam sudah sulit dalam melestarikan jenis, dan kebutuhan manusia terhadap fungsional biodiversity menjadi sesuatu yang sangat diperlukan dalam memenuhi kebutuhan manusia. Agribisnis plasma nutfah dalam pengembangan fungsionalnya akan menjadi tren yang terus berkembang.

Subcategories