PELESTARIAN PEMANFAATAN AGLAONEMA ROTUNDUM
edhi Sandra & Hapsiati
Esha Flora Plat & Tissue Culture

1. Latar Belakang
Beberapa tahun yang lalu penjualan Aglaonema tidak seramai seperti jaman sekarang. Pada waktu itu Ahlaonema sp tidak banyak digemari banyak orang, hanya orang-orang tertentu saja yang memang hobi dan mencintai tanaman. Dan aglaonema masih dikenal dengan istilah Sri rejeki, dan ragam variasinya hanya berdasar pada corak motif sedqngkan warna daun pada waktu itu yang terbaik adalah warna kuning selain wana gelap (hitam).

Setelah penelitian yang panjang dari Penyilang senior kita yang terkenal Bapak Greg Hambali maka beliau menemukan warna merah yang berasal dari Agaonema rotundum. Dan hasil silangannya yang sangat spektakuler pada waktu itu dan bahkan masih disenangi banyak orang adalah "Pride Sumatra" Bahkan Pride of Sumatra menggondol juara dalam lomba internasional pada waktu itu.
Nama Aglaonema menjadi melesat dengan terkenalnya Aglaonema Pride of Sumatra ke seluruh dunia.

2. Permasalahan
Sayangnya para pembudidaya di Indonesia tidak banyak yang dapat bertahan dan bersabar seperti Pak greg Hambali, sehingga tetap saja sampai sekarang hanya Pak Greg Hambali saja yang dapat menyilangkan dengan baik Agaonema.

Thailand rupanya cepat menangkap peluang, maka pada beberapa tahun yang lalu, thailand pernah melakukan sapu bersih Agaonema rotundum dari semua pedagang di Indonesia, sampai kita mengalami kelangkaan sampai sekarang.
Dan rupanya mereka dengan teamnya yang solit antara perguruan tinggi dan petani serta dipimpin oleh pemerintahnya yang perhatian dalam hal ini. Maka beberapa tahun kemudian banyak silangan-silangan baru yang cukup spektakuler seperti Ladys valentine, legecy dll.

Sampai saat ini, para pembudidaya tanaman hias di Indonesia berusaha untuk membudidayakan Aglaonema rotundum, tapi sayangnya dari sekian besar Aglaonema yang diambil dari hutan banyak tanaman yang mati, karena proses transportasi yang cukup lama dan membuat tanaman menjadi stres berat. Berita mengenai sulitnya budidaya Aglaonema rotundum ini masuk dalam artikel Trubus bulan ini (November 2009).

Disamping itu, menurut laporan dari temannya teman yang mengambil Agalonema langsung dari hutan Sumatra, saat ini mereka sangat sulit mendapatkan Aglaonema rotundum, karena selain sudah semakin langka juga adanya konversi lahan hutan sehingga banyak habitat asli Agalonema rotundum yang rusak dan menyebabkan kepunahan Aglaonema rotundum.

3. Pelestarian Pemanfaatan Aglaonema rotundum
Hal ini tidak bisa kita diamkan, perlu adanya langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk melestarikan Aglaonema rotundum, yang merupakan nenek moyang dari aglaonema yang berwarna merah saat ini.
Untuk itu Esha Flora sudah melakukan usaha-usaha melestarikannya dengan menggunakan teknologi kultur jaringan.

Teknologi kultur jaringan sepertinya kelihatnya enak, mudah dan hasilnya banyak dan berkualitas, tapi sebanarnya prosesnya membutuhkan ketelitian, ketekunan dan kesabaran. Permasalahan yang paling kritis adalah masalah kontaminasi. Sebagian besar para pelaku kultur jaringan tidak ada yang berani dapat memastikan tingkat keberhasilan proses sterilisasi, karena tidak ada jaminan bahwa suatu metode sterilisasi bisa menjamin keberhasilannya sekian persen, bahkan yang sering terjadi adalah kegagalan yang berulang yang ditemui.

Permasalahan kritis di dalam proses sterilisasi akan bertambah kritis bila tanaman tersebut merupakan tanaman hutan yang secara alamiah sudah secara sistemik mengandung bakteri dan jamur....
Sampai-sampai bapak Greg Hambali mengatakan bahwa Aglaonema beliau tidak bisa dikulturkan. Dan memang menurut laporan teman di Thailand, mereka juga belum mengkulturkan Aglaonema rotundum.

Alhamdulillah Esha Flora dengan berbekal niat yang tulus dan kerja yang ulet, teliti dan sabar akhirnya berhasil mengkulturkan Agaonema rotundum. Dalam hal ini Esha Flora berhasil menemukan metode baru di dalam sterilisasi eksplan, yang ternyata selama ini metode yang ada ternyata kurang tepat atau kurang efektif...

Sampai saat ini bayi-bayi tanaman aglaonema rotundum masih di dalam perawatan dalam botol untuk diperbanyak dan dibesarkan, untuk kemudian dapat dikeluarkan.

Dengan berhasil dikulturkannya Aglaonema rotundum, maka kami berharap kebutuhan akan bahan tanaman, baik sebagai mother plant" ,maupun sebagai tanaman hias yang akan dijual tidak menyebabkan tekanan terhadap populasi di alam. Atau hasil kultur ini dapat dikembalikan kembali ke hutan untuk memperkaya poipulasi Aglaonema rotundum di hutan. Semoga keanekaragaman hayati di Indonesia dapat tetap lestari dan kita dapat memanfaatkannya secara optimal. Amin.

Subcategories