Oleh
Ir. Edhi Sandra MSi
Kepala Unit Kultur Jaringan Bagian Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB Bogor.
Kepala Laboratorium Bioteknologi Lingkungan PPLH IPB Bogor

I.  Pendahluan

Indonesia memiliki beranekaragam tumbuhan hutan tropika. Kenapa disebut sebagai "Ke-aneka-ragaman" Tumbuhan.  Seakan terjadi suatu kesalahan, yaitu pengulangan kata dengan makna yang sama, kata "aneka" dan kata "ragam".  Kedua kata tersebut mengandung makna memiliki “banyak macam”. Jadi bila kedua kata digabung, kesannya melakukan pengulangan yang tidak perlu, padahal tidak demikian. Kata "Keanekaragaman" digunakan untuk dapat memberikan gambaran bahwa memang terdapat beraneka atau banyak macam dari ragam tumbuhan yang ada di Indonesia. Hal ini dapat kita mengerti kalau kita melihat bahwa di hutan Hujan Tropis dataran rendah kita terdapat berbagai macam tumbuhan hias, tumbuhan obat, tumbuhan pangan, tumbuhan racun, tumbuhan pewarna, tumbuhan aromatik, tumbuhan sumber energi yang kesemuanya masing-msing memiliki ragam yang sangat besar. Misalnya tumbuhan hias memiliki bermacam-macam ragam seperti anggrek, palem, nepenthes, dll.
     Tapi sangat disayangkan, kita bagaikan tikus mati di lumbung padi. Tidak mampu meningkatkan pemanfaatan dari kekayaan tersebut untuk peningkatan kesejahteraannya, atau kualitas hidupnya kecuali hanya sekedar untuk makan saja.  Betapa banyak anekaragam anggrek hutan kita terkuras habis karena dijual kepada pedagang dari luar negeri, sementara kita hanya dapat sekedar ongkos lelah untuk mengambil anggrek ke hutan. kita hanya dapat kelebihan harga sedikit dari penjualan berbagai macam jenis spesies hutan kita.
     Kita selalu menilai bahwa harga tumbuhan hutan dengan harga yang sangat murah, bahkan dibilang sangat murah, karena seakan tidak memerlukan terlalu banyak biaya, tidak perlu merawat dengan susah payah, sehingga dengan harga murah tumbuhan spesies tersebut dijual murah.  Padahal orang luar negeri sangat mendambakan untuk mendapatkan jenis-jenis spesies asli Indonesia. Tumbuhan spesies asli Indonesia akan digunakan oleh mereka sebagai bahan indukan untuk melakukan penyilangan, untuk mendapatkan turunan yang lebih unggul.
     Bila dilihat produk tanaman hias yang ada di pasaran di seluruh Indonesia, hampir seluruhnya merupakan hasil persilangan dari luar negeri. Dan sedikit sekali tumbuhan hias hutan yang beredar di pasaran, seharusnya dapat menjadi tuan rumah bagi penjualan tanaman hias di Indonesia.

II.  Usaha Yang Dapat Dilakukan Agar Jenis Liar Laku Dijual
     Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar dapat meningkatkan pemanfaatan tumbuhan spesies asli hutan :
1.  Pemanfaatan pada level pertama adalah "Domestikasi", yaitu berusaha agar beranekaragam tumbuhan hias asli Indonesia dapat ditangkarkan, diperbanyak dan dapat tumbuh dengan baik dan berkembang biak dengan baik.  Kemampuan di dalam melakukan perbanyakan tumbuhan hias hutan tergantung pada ilmu penangkaran tumbuhan liar.  Misalnya: mungkinkah membudidayakan Edelweiss?. Bila mampu membudidayakannya dengan baik dan dapat memperbanyaknya dalam jumlah yang besar, maka tumbuhan ini dapat mengurangi tekanan eksploitasi Edelwies di alamnya. Dengan karakternya yang terkesan tidak mati, maka oleh para pemuda-pemudi bunga Edelweiss ini dianggap sebagai perlambang cinta abadi.
2.   Membuat teknik budidaya intensif untuk meningkatkan produktivitas bagian tumbuhan yang akan digunakan, misalnya bagaimana membudidayakan Tabat Barito untuk dipanen daunnya secara intensif, bagaimana kita membudidayakan pasak bumi untuk diambil akarnya.  Bila diperhatikan selama beberapa dekade belakangan ini jarang sekali tumbuhan hutan yang berpindah status menjadi tanaman pertanian yang dibudidayakan secara intensif, baik mengenai tanaman hias, atau tanaman pangan ataupun tanaman obat.
3. Bila sudah mampu melakukan domestikasi, menangkarkan dan memperbanyaknya, maka tahap kedua adalah melakukan kreasi dan modifikasi agar tampilan tumbuhan hias tersebut mempunyai nilai estetika sehingga dapat dijual (mempunyai nilai komersial).  Misalnya: saat ini banyak orang baru mulai menanam Nepenthes di dalam pot di beri rambatan sehingga Nepethes dapat memperlihatkan bentuknya yang indah dan unik.  Sebelumnya Nepenthes banyak berserakan di dalam hutan kita dan masyarakat tidak mau mengambilnya karena tidak ada harganya.  Tumbuhan Serut yang merupakan bahan baku bonsai, begitu di masukkan dalam pot bonsai dan di rawat dengan baik maka nilainya jutaan rupiah.
4. Melakukan pemuliaan dengan menggabungkan sifat induknya (penyilangan). Hal ini sebagian sudah bisa dilakukan oleh beberapa penyilang kita. Tapi untuk beberapa jenis tumbuhan asli masih belum ada yang melakukan. Sayangnya di Indonesia hanya sedikit orang yang mau konsisten dan tekun menangani hal ini. Bapak Greg Hambali dengan kesuksesannya menyilangkan aglonema, merupakan contoh panutan untuk menyilangkan tumbuhan liar hutan yang sangat potensial.
5.  Melakukan pemuliaan dengan meningkatkan kualitas dan hasil kandungan yang dimilikinya. dengan teknik budidaya tertentu.  Misalnya pemanenan daun untuk bahan baku obat,  Melakukan seleksi genetik dan meneliti teknik budidaya yang mengarah pada kandungan bahan baku obat yang tertinggi.  Bahwa diketahui ada jenis-jenis tertentu yang memiliki kandungan obat yang jauh lebih tinggi dibanding dari daerah lain. Dan diketahui sebagian tumbuhan akan memiliki kandungan bahan bioaktif pada saat sebelum atau mulai akan munculnya bunga. Hal ini dapat di mengerti karena pada saat itulah kandungan cadangan makanan terbesar dan kandungan metabolit sekunder di hasilkan.  Bila sampai berbunga dan berbuah, justru cadangan makanan akan terkuras untuk proses pembungaan dan pembuahan tersebut.  Saat kandungan bioaktif tertinggi itulah yang dituju dalam budidaya tumbuhan obat.
6.   Melakukan penyilangan antar spesies dengan jenis hybrid dari luar negeri, atau spesies kita dengan spesies dari luar negeri dan sebagainya. Dalam hal ini terbuka peluang yang sangat luas, tapi membutuhkan ketekunan dan waktu yang lama, serta juga diperlukan jumlah tanaman yang cukup besar agar proses penyilangan dapat dilakukan dengan baik.
7.   Melakukan pemuliaan dengan memberikan zat penghambat maupun hormon untuk mendapatkan bentuk morfologi yang diinginkan. Misalnya bunga krisan yang pendek tapi berbunga besar, membuat struktur tanaman menjadi lebih kokoh dan kompak, seperti anthurium.
8.    Membuat mutasi buatan agar nilai komersial tanaman akan meningkat. Dalam hal ini terbatas pada tanaman hias, yang penting terjadi mutasi, asal hasilnya berbeda unik maka nilainya mahal, seperti kristata, farigata, kompakta.
9.   Meningkatkan kualitas dan produktivitas tumbuhan hutan dengan cara sambungan, sehingga kualitas menjadi meningkat.
10.   Melakukan pemuliaan dengan menggunakan bantuan metode kultur jaringan. Diantaranya adalah membuat tanaman tumbuh lebih cepat dan lebih besar (poliploid), membuat tanaman menjadi mini (haploid), memproduksi bahan bioaktif obat langsung dalam botol, koleksi berbagai jenis tumbuhan secara in vitro (konservasi in vitro), membebaskan tumbuhan dari virus, embrio rescue, dll.
III.   Kelemahan dan Hambatan
                Memang tidak mudah merealisasikan hal ini.  Terbukti sampai sekarang Keanekaragaman hayati  belum mampu membuat masyarakat menjadi sejahtera.  Belum banyak keanekaragaman hayati yang sudah dikembangkan dan dimanfaatkan. Hal ini disebabkan oleh:
1.  Sifat rasional dan logis dari para pengusaha.
                Saya mengatakan demikian karena sulit juga menyalahkan pengusaha yang tidak mau merintis dan mengusahakan tumbuhan hutan liar untuk dapat dikembangkan.  Menurut mereka tumbuhan hutan atau tumbuhan liar masih memerlukan banyak penanganan untuk dapat menjadi uang walaupun dari segi estetika tumbuhan tersebut memiliki bunga yang indah.  Belum adanya pasar bagi jenis tumbuhan yang baru memerlukan usaha promosi dan sosialisasi yang menguras uang, tenaga dan waktu.  Tidak adanya jaminan kontinuitas pasokan barang, akrena belum ada pihak yang menangani budidayanya dengan jumlah yang besar, kontinu dan stabil.  Masih adanya kekurangan sifat-sifat tertentu dari tumbuhan yang memperlemah nilai jual, misalnya masa berbunga yang pendek,  kurang kokoh dan tebal , ukuran kurang besar dll.
                Oleh sebab itu wajar bila pengusaha tidak mau mengusahakannya.  Secara logika daripada mengusahakan sesuatu yang belum jelas hasilnya akan lebih baik mengusahakan tanaman impor yang sudah ada pasarnya, harganya bagus dan marginnya jelas, mereka tinggal menghitung analisa biayanya bila fisibel, maka mereka mau mengeluarkan investasi untuk itu karena jelas hasilnya.  Lalu pertanyaannya adalah siapakah yang akan mengurusi keanekaragaman hayati kita ini ?
2.  Tidak adanya kesinambungan antara berbagai stakeholder yang terkait dengan tumbuhan liar.
Hal ini membuat tumbuhan liar menjadi tidak tertangani dengan baik sehingga kesannya tidak berharga.  Kalau saja masingmasing mau melakukan suatu program yang saling sinergis dalam pengembangan tumbuhan liar, maka tumbuhan hutan kita akan dapat ditingkatkan manfaatnya.
Ada perbedaan karakter yang sangat jelas antara peneliti dan pengusaha yang seharusnya bekerjasama saling sinergis dalam mengembangan tumbuhan liar, yang menyebabkan mereka tidak pernah bertemu dan sepakat dalam mengembangan tumbuhan liar. Peneliti adalah orang yang dengan jiwa seorang peneliti akan memiliki tantangan bila mendapatkan permasalahan yang menarik dan menantang, dan biasanya semakin piawai peneliti tersebut akan semakin susah topik penelitiannya, maka dia akan berusaha dengan segala usaha untuk memecahkan masalah tersebut, dia tidak mau diganggu dengan permasalahan lain yang dianggap tidak menarik buat dirinya.  Sedangkan Pengusaha adalah orang yang dengan jiwa pengusahanya akan berusaha keras agar usahanya mengalami keuntungan yang besar dan banyak tanpa harus mengeluarkan modal yang besar. Oleh sebab itulah maka akan dicari berbagai alternative yang paling mudah, yang tidak memiliki masalah yang dapat menghasilkan keuntungan terbesar buat dirinya.  Dia tidak mau mengusaha sesuatu yang dianggapnya akan merugikan usahanya. Sesuatu yang belum jelas dan tidak pasti akan dijauhinya.
3. Tidak adanya orang-orang yang focus secara berkesinambungan melakukan penelitian terapan dalam rangka pengembangan tumbuhan liar/ hutan ini.
Masih diperlukan beberapa penelitian terapan agar tumbuhan hutan tersebut dapat dijual. Peneliti merasa bahwa itu sudah bukan bidangnya, sementara pengusaha tidak mau karena masih banyak hal yang tidak jelas untuk dapat mengembangan tumbuhan liar atau tumbuhan hutan tersebut.  Dalam hal ini diperlukan voluntir yang dengan sukarela melakukan penelitian terapan ini.
4.  Belum adanya rencana strategis dalam pengembangan pemanfaatan tumbuhan hutan ini agar jenis tersebut dapat eksis di persaingan pasar yang sangat ketat.
                Diperlukan rencana strategis yang baik, program promosi yang terus-menerus dan berkesinambungan serta mencari celah masuknya jenis tersebut pada pasar yang ada. Sebaiknya ada strategi yang dikembangkan oleh komunitas, atau perhimpunan atau pecinta tanaman atau antar instansi dll agar hal ini dapat berjalan dengan baik.
                Saya membayangkan akan sangat baiknya bila ada kerjasama antar isntansi yang berkompeten dalam hal ini saling mencurahkan fikiran dalam menyusun strategi dan program yang baik dalam rangka mengangkat pengembangan tumbuhan hutan ini.
5.   Tidak adanya usaha pemerintah yang serius dan jelas di dalam pengembangan tumbuhan hutan kita.
Bahkan tidak jelas ini menjadi tugasnya siapa. Jangankan melindungi, tapi dari tahun ke tahun, keanekaragaman hayati kita semakin habis, punah karena alih fungsi hutan menjadi lahan lain.  Tidak pernah ada kabar bahwa tumbuhan langka menjadi tidak langka lagi atau tidak terancam lagi, yang ada adalah jumlah tumbuhan hutan yang terancam punah semakin panjang daftarnya.

Penutup
                Sedih, prihatin ,marah menuasasi hati ini. Akankah keanekaragaman hayati akan punah begitu saja tanpa memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan bangsa ini. Sedih dan marah karena diri ini tidak dapat berbuat banyak untuk menyelesaikan masalah ini.
                Tapi dengan keyakinan bahwa hal ini bisa kita tangani.  Dan dengan niat yang tulus dan ikhlas untuk mengabdikan diri bagi pengembangan ilmu dan teknologi dalam pengembangan tumbuhan hutan.  Saya akan berusaha sedapat mungkin untuk melakukan yang dapat saya lakukan…….
                Mari saudara-saudaraku semua…mari saling bersinergi untuk mengembangkan tumbuhan hutan…..Semoga Sukses menyertai kita semua…Amin

Bogor,  3 April 2011
Edhi Sandra

Subcategories