Oleh : Edhi Sandra
Dosen Bagian Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan
 Ekowisata, Fakuktas Kehutanan IPB Bogor.   Pemilik Esha Flora, Plant and Tissue Culture. 
  
GREEN ENTERPRENEURSHIP

Pendahuluan

            Bila kita lihat topik atau temanya maka bila diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari adalah Pengusaha Yang Berwawasan Lingkungan.  Berarti mengandung pengertian “Orang atau Pengusahanya” yang berwawasan lingkungan.  Bila Pelakunya yang berwawasan lingkungan berarti : Pola Pikir, Pola Sikap dan Pola Tingkah lakunya semuanya berwawasan lingkungan.

            Dari Pola Fikir Berwawasan lingkungan akan menghasilkan pemikiran dan kebijakan dan keputusan yang berwawasan lingkungan. Pola sikap akan mennghasilkan keberpihakan yang berwawasan lingkungan. Sedangkan dari Pola Tingkah Laku akan menghasilkan tindakan-tindakan yang berwawasan lingkungan
            Berlandaskan pada itu semua maka Pengusaha tersebut akan menghasilkan produk dan jasa yang juga ramah lingkungan dan mengarah pada kelestarian lingkungan.  Demikian pula dengan Bentuk perusahaan, peraturan perusahaan, kebijakan perusahaan rencana dan program perusahaan tidak akan bersifat kontra terhadap kelestarian lingkungan.

            Pertanyaannya adalah adakah pengusaha yang seperti itu?  Bila usaha tersebut berbentuk Perusahaan maka kegiatan perusahaan yang berwawasan lingkungan lebih disebabkan karena kewajiban dari aturan yang telah dibuat pemerintah. Pertayaan kembali adakah perusahaan yang benar-benar para pemimpinnya dengan hati yang ikhlas dan tulus untuk melestarikan lingkungan?

Bedanya Pengusaha dengan Orang biasa

            Pengusaha akan selalu berusaha agar dirinya selalu mendapatkan keuntungan. Sedangkan orang biasa seringkali tidak focus dan tidak mempunyai rencana yang jelas, dia hanya sekedar menjalani hidupnya.

(Hidup untuk makan atau makan untuk hidup ?)

Kontradiktif Pengusaha Berwawasan Lingkungan
            Kenapa saya sebut kontradiktif? Karena pada umumnya yang namanya pengusaha selalu menganut prinsip-prinsip bisnis yang selalu berlandaskan pada orientasi keuntungan.  Ditambah dengan tekanan dan kondisi bisnis yang sangat bersaing dan sangat ketat. Oleh sebab itulah setiap hal setiap detail diusahakan lebih efisien dan efektif, diusahakan agar perusahaan dapat bertahan dari kondisi krisis saat ini.  Bisa bertahan saja sudah hebat apalagi mampu berkembang dengan baik.  Semuanya dikontrol dengan sangat ketat agar tidak menimbulkan kerugian.  Hal-hal yang bersifat tidak menguntungkan secara real maka akan ditiadakan, setiap langkah yang menghabiskan uang yang tidak berdampak pada keuntungan akan ditiadakan. Kerja pegawai dioptimalkan, kinerja ditingkatkan, waktu diefisienkan.
            Dibuat sedemikian ketat aturan dan sistem yang menghalangi kerugian dan pemborosan. Jadi perusahaan adalah hasil pemikiran kolektif (terutama para pemimpin dan pemiliknya), tidak satu orang, demikian pula ditingkat bawahnya para manager dan para pekerja tidak ingin dipecat, semua target yang harus dicapai dijadikan acuan.
            Nah seringkali Berwawasan lingkungan bersifat “membuang uang” , tidak ada hasil keuntungan secara langsung untuk perusahaan.  Seringkali berwawasan lingkungan justru bersifat kontra dengan pencapaian target dan tujuan perusahaan.

            Memang kita sudah tahu pentingnya kelestarian lingkungan serta dampaknya bila kita tidak melestarikannya.  Tapi pertanyaannya menjadi tanggungjawab siapa? Maukah seseorang bertanggungjawab, apalagi kalau dia merasa tidak memiliki atau dia tidak ada kaitannya secara langsung dengan lingkungan tersebut.
            Seseorang bisa saja berdalih bahwa dia bukan dari lingkungan tersebut, jadi bukan tanggungjawabnya.   Bisa pula seseorang berkata kalau saya bisa pergi bila daerah ini rusak, karena saya banyak uang, yang penting saya sudah dapat uang banyak, tempat tinggal bisa dimana saja bahkan banyak yang lebih baik dari ini.

Beda Pengusaha Biasa Dengan Pengusaha Berwawasan Lingkungan

            Pengusaha biasa akan mengutamakan keuntungan (uang) dibandingkan dengan kelestarian lingkungannya.  Sedangkan Pengusaha Berwawasan Lingkungan lebih mengutamakan kelestarian lingkungan dibandingkan dengan keuntungan (uang).

(Apa beda Pengusaha dengan Peneliti?  Perbedaan inilah yang membuat pengusaha dan peneliti tidak bisa bersatu untuk saling membantu)

Motivasi Pengusaha Berwawasan Lingkungan

            Bila ada Pengusaha yang lebih mementingkan kelestarian lingkungan disbanding keuntungan (uang), maka sebenarnya apa motivasi dari pengusaha tersebut? Koq mau-maunya merugikan usahanya?  Koq bodoh amat pengusaha tersebut mau bersusah payah mengurusi lingkungan sementara usahanya menjadi terancam merugi dan bangkrut?

(Banyak kasus pedagang menggunakan bahan-bahan yang murah dan tidak bertanggungjawab yang penting untung, seperti kasus pewarna kain untuk pangan, pengawet untuk pangan, bahan baku makanan yang sudah rusak didaur ulang, dan dijual kembali. Kesemuanya berusaha menerapkan prinsip bisnis)

            Pasti ada dasar atau pola fakir yang melandasi perbuatan “bodohnya” untuk melestarikan lingkungan dan membuat perusahaan terancam bangkrut atau merugi. Pasti ada pemikiran yang lain yang logis yang mendasari pola fikirnya tersebut.

Agama Melandasi pola Fikir Logis

            Perbuatan yang kelihatannya bodoh sebenarnya dari kacamata agama memiliki logika sendiri berdasarkan ajaran agama tersebut.  Ajaran agama yang diyakini pengusaha inilah yang mendasari pola fikir dan pola sikap dan pola tingkah laku pengusaha tersebut.


Agama dan Wawasan Lingkungan

            Sudah seharusnya setiap agama akan selaras dan sesuai dengan kelestarian lingkungan.  Tuhan menciptakan dunia seisinya untuk kesejahteraan manusia, dan manusia diberi tugas /amanah untuk menjaga lingkungannya. Dan Tuhan menciptakan lingkungan /alam dengan aturan-aturan yang ditetapkan.  Ketentuan Tuhan mengenai alam seisinya inilah yang menjadi bahan penelitian mahasiswa KSHE.
            Dengan mengetahui ketentuan Tuhan yang menciptakan alam semesta ini kita akhirnya tahu mengenai kelestarian lingkungan dan dampaknya bagi manusia.  Lalu bagaimana hubungan antara kelestarian lingkungan dengan Pengusaha yang beragama tersebut? Apa definisi keuntungan bagi pengusaha yang sebenarnya adalah Hamba atau mahluk ciptaan Tuhan.

Ajaran Agama Dan Konsep Keuntungan

            Bila Pengusaha tersebut meyakini suatu agama, maka ajaran agama tersebut menjadi logis dan wajar bahkan bersifat mengikat, tapi ajaran agama yanglain tidak akan membuat manusia yang tidak meyakininya menjadi berfikir logis, karena dia menolak ajaran tersebut.
            Mohon maaf,  karena saya beragama Islam, maka saya akan memberikan sudut pandang dari persepsi dan pengetahuan saya dari segi agama Islam. Saya usahakan untuk tetap bersifat umum.  Ajaran agama yang berkaitan dengan konsep keuntungan:
Disebutkan bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.  Hal ini menekankan konsep waktu yang sangat penting dan tidak bisa diulang, oleh sebab itulah kita harus mengusahakan yang terbaik yang dapat kita lakukan.
Semua manusia dalam kadaan merugi dalam hidup ini, kecuali yang bertakwa dan beriman pada Tuhan yang Maha Esa.
Adanya konsep Halal dan Haram, Pahala dan Dosa.   Semua hal yang ersifat baik akan mendapatkan pahala, dan semua hal yang bersifat negative mendapatkan dosa. Dalam hal ini termasuk ketentuan Tuhan dan fitrah.
Adanya tawaran bisnis dari Tuhan yang jauh lebih menguntungkan dengan bisnis apapun, yaitu bisnis di jalan Tuhan yang Maha Esa. Bisnis untuk menjalankan Perintah (Rukun Islam dan Rukun Iman) serta melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Ajaran bahwa didunia ini hanyalah ujian, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya adalah diakhirat nanti, kekal abadi (surga dan neraka).
Adanya ajaran-ajaran agama tentang rizki dan keberkahan
Adanya ajaran tentang sedekah dan zakat dalam membersihkan harta, mendatangkan rizki serta menolak bala.
Adanya kepuasan, kebahagiaan dan ketentraman batin / hati bila menjalankan yang diperintahkan Tuhan.
Adanya rasa kekhawatiran, ketakutan, was-was dan sebagainya bila kita melakukan dosa atau hal-hal yang dilarang agama.

Ajaran-ajaran inilah yang mempengaruhi pengusaha sehingga seringkali berbeda dengan konsep orientasi keuntungan yang digagas oleh para pelaku bisnis dari Negara barat. Pengusaha tersebut tidak merasa rugi melakukan pelestarian lingkungan walaupun mengeluarkan biaya, walaupun seperti bertolak belakang dengan program dan target yang harus dicapai perusahaan. Tapi sebenarnya ada hal yang lain yang dikejar yaitu keuntungan dunia dan akhirat. Dia meyakini bahwa dengan melestarikan lingkungan yang merupakan amanah Tuhan untuk menjaga lingkungan akan berdampak positif bagi keberkahan dan tabungan pahala, serta kepuasan dan ketentraman batinnya.


KUNCI SUKSES BISNIS

                Untuk melakukan bisnis apapun ada beberapa kata yang perlu diperhatikan:
Mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil.
Kegagalan adalah sukses yang tertunda
Kesuksesan adalah akumulasi dari kegagalan.
Dalam mengarungi bisnis tidak selalu untung, ada masa rugi. Jangan hanya mau menerima untungnya saja, sementara rugi ditinggal.
Kesabaran, keuletan dan kreativitas dan inovasi dalam kondisi rugi merupakan kunci dari kesuksesan.
Ukir jejak, inventarisasi, tingkatkan, lengkapi dan sempurnakan profesi.
Inventarisasi, perluas, diversifikasi, perbanyak jaringan kemitraan dan stakeholder
Perkuat eksistensi, banyak dimanfaatkan orang, dijadikan acuan orang.
Memilki kelebihan, ciri serta kemampuan dan ketrampilan yang lebih dibanding yang lain.
Kemampuan bertahan pada kondisi kritis dan merugi dalam waktu yang cukup lama/panjang.


ESHA FLORA

Membantu Penerapan  Iptek di masyarakat luas

          Awal mulanya saya sangat menyukai biologi terutama tumbuhan.  Semua halmengenai tumbuhan saya pelajari.  Saya menjadi asisten dari semua pelajaran yang berkaitan dengan tumbuhan mulai dari biologi dasar, taksonomi tumbuhan, ekologi, anatomi tumbuhan, dendrologi, fisiologi Tumbuhan. Saya suka meneliti, saya suka hal-hal yang baru, menemukan sesuatu yang baru dan saya suka mengajarkan sesuatu.


Ajaran Agama Yang Mendasari Kegiatan Esha Flora

1.  Ulil Albab (Ilmuwan)
          Tuhan akan meninggikan posisi dan kedudukan seorang Ulil Albab di bandingkan orang lain.  Oleh sebab itulah saya berprofesi sebagai dosen, sebagai eorang peneliti, karena tugas dosen ada 3 yaitu: meneliti, mengajar dan mengabdi (Tri Darma Perguruan Tinggi).  Ketiganya sesuai dengan ajaran agama yang ingin saya laksanakan.

2.   Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
          Saya akan berusaha mengikuti dan menerapkan aturan dan ajaran agama dengan sebaik mungkin. Saya ingin lulus ujian hidup. Saya ingin sukses dunia dan akhirat.  Hal inilah yang mendasari kenapa harus berbuat bodoh atau merugikan dari sudut pandang usaha / perusahaan.  Setiap kalai ada pilihan, antara keuntungan “uang” dengan amal bidah “ pahala” maka saya akan memprioritaskan amal ibadah.

3.  Sedekah Ilmu Yang Bermanfaat
          Hal inilah yang melandasi kegiatan-kegiatan yang bersifat “boros dan bodoh” dari segi perusahaan/ pengusaha.  Saya lebih mengutamakan ibadah, amal dan pahala dibandingkan sekedar “uang”. Saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekian rupiah yang saya dapatkan.  Saya lebih suka berbagi ilmu daripada menjual ilmu. Dalam hal ini saya perlu memilah-milah antara sedekah ilmu dan sedikit uang untuk dapat menyambung hidup, dan untuk keluarga.

4.   Royalti Yang Dibawa Saat Meninggal
          Ada tiga hal yang akan kita dapatkan royaltinya walaupun kita sudah meninggal yaitu: 1.  Amal sholeh yang masih dimanfaatkan orang, 2. Anak yang Sholeh, 3. Ilmu yang bermanfaat yang digunakan orang. Hal inilah yang lebih mendasari bentuk saya yang saat ini. Bagi saya keluarga, anak adalah prioritas utama.

5.   Amar Maruf Nahi Munkar      
          Berusaha berbuat amal ibadah dan berusaha mencegah kemunkaran.  Oleh sebab itulah saya senang bila dapat membantu orang lain, karena sebenarnya dengan membantu orang lain akan membantu diri kita sendiri.
          Saya berusaha mencegah kemunkaran. Semua hal yang bersifat negative dan tidak baik berusaha ssedapat mungkin kita antisipasi. Termasuk diantaranya adalah Meningkatkan kualitas lingkungan, meningkatkan pemanfaatan lingkungan dengan lestari dan ramah lingkungan                                

Kegiatan Esha Flora

Program Go Green RW 10 Taman Ciamnggu Bogor
Program Kelompok Tani Anggrek Perkotaan  “Macodes”
Program pendidikan Kultur Jaringan ke sekolah-sekolah
Program pemberdayaan anak tidak mampu/putus sekolah
Program pendidikan biotek ke masyarakat luas.
Program penerapan kultur jaringan skala rumah tangga
Program magang dan pelatihan mahasiswa dari berbagai fakultas dan perguruan tinggi
Berusaha berperan aktif di berbagai kelompok Pecinta tanaman: PAI, PFI, Maniak Aglo, KPT dll.
Konsultan dari berbagai perusahaan dan perorangan yang akan agribisnis kuljar.
Membantu terwujudnya agribisnis kuljar di Ind.
Membuat buku, publikasi iptek-biotek – kuljar di Dunia maya: blog, web FB dll.
Menemukan teknik-teknik praktis, alat dan produk baru.
Mengantarkan pola fakir sebagai produsen dan penemu.: kemandirian dan jiwa perintis & leadership.
Memasyarakatkan pemanfaatan tradisional tumbuhan obat
Mengadakan pelatihan perbanyakan dan usaha tanaman hias di perumahan.
Mewujudkan Agri Wisata Perkotaandi Taman Cimanggu Bogor.


Bogor, 30 April 2011

 Disampaikan pada acara Seminar Green Enterpreneur. Membangun Jiwa Wirausaha Berwawasan Lingkungan. Sabtu, 30 April 2011 di KampusIPB Darmaga. Pemrakarsa Himakova IPB Bogor.

Subcategories